Gelombang Migrasi ke Peranap

Memasuki Peranap dari Air Molek, kita akan menemui dua tugu, Tugu pertama yang ditemui terletak di antara persimpangan menuju Jembatan Napal yang umum dikenal sebagai Simpang Napal atau karena populernya Rumah Makan Ombilin disebut pula Simpang Ombilin.Sepintas tidak ada yang istimewa dengan tugu ini, karena jarang ada yang memperhatikan. Tetapi, di tugu ini ada tulisan 18…, yang katanya adalah tahun pendirian Peranap. Apa dasar penggunaan tahun tersebut tidaklah banyak yang tahu? Tetapi apakah saat itu Peranap mulai dihuni?

Penduduk awal Tigalorong

Tigalorong adalah nama umum untuk Peranap. Nama ini dikaitkan dengan Tiga Kakak Beradik yang berkat jasa kepahlawanannya diangkat sebagai Penghulu Luhak ini. Tetapi apakah nama Tigalorong khusus untuk mereka?

Dalam kutipan kisah sejarah Penghulu Tigalorong dinyatakan bahwa mereka bertiga diangkat sebagai Penghulu yang sejajar Menteri untuk wilayah Tigalorong. Artinya, dengan kata-kata tersebut, wilayah Tigalorong telah ada sebelumnya.

Tigalorong bukanlah sekedar Tiga kepenghuluan yang mereka pimpin, meski kebetulan jumlah mereka tiga. Tigalorong adalah nama Luhak Kesultanan Indragiri yang terletak antara Luhak Tigarantau dengan Luhak Pucuk Rantau dan Kuantan.

Menurut sebagian tetua, nama Tigalorong berasal dari tiga jalur transportasi sungai dari Muara Batang Peranap, yakni :

  1. Sungai Indragiri, Lorong Hilir.
  2. Batang Kuantan, Lorong Kanan.
  3. Batang Peranap, Lorong Kiri.

Masa Rajo Kuek Kuaso

Salah satu tokoh legendaris yang sering disebut tetapi seakan-akan tidak ada pengaruhnya dalam sejarah Peranap adalah Rajo Kuek Kuaso. Tokoh ini disebut berperan dalam penamaan wilayah di Tigalorong dan Pucuk Rantau, di antaranya nama Peranap yang konon berasal dari buah pauh yang digunakan untuk membuat sambal mata sang tokoh dan nama Pangkalan, ibukota Pucuk Rantau yang konon merupakan tempat menggiling sambal mata dengan sangkalan.

Secara umum, gambaran mengenai pengisahan tokoh ini seakan-akan hanya beliau dan isterinya yang menghuni Pucuk Rantau, Tigalorong dan Tigarantau saat itu.

Rajo Kuek Kuaso adalah tokoh penting dalam kerajaan-kerajaan Tigalaras Dharmasyraya (Siguntur, Sitiung dan Padang Lawas). Beliau diceritakan membalikkan istana Siguntur sehingga depan menjadi belakang, mencabuti kayu-kayu di Gunung Medan hingga tidak bisa ditanami dan berbagai kisah lainnya.

Catatan :

Geo Historis Indragiri Batang Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *