Naga Sakti Muna

Pernahkah anda mendengar tentang legenda ular sakti Naga Sakti Muna? Konon, ular naga tersebut sangat besar. Lilitannya pada Gunung Merapi menyebabkan kawasan sekitar Gunung Merapi gelap gulita.

Ular tersebut akhirnya mati di tangan Sang Sapurba. Pedang Cumandang Kini terlalu tajam bagi ular tersebut. Tetapi ular tersebut betul-betul sakti. Bangkainya harus dibagi tiga. Kepalanya dilemparkan ke Kampar, perutnya ke Kuantan dan ekornya ke Batang Hari.

Sang Sapurba si pembunuh

Pembunuh Naga Sakti Muna adalah Sang Sapurba. Siapa sang Sapurba. Nama aslinya adalah Nila Pahlawan. Beliau konon tiga beradik dengan Sang Utama dan Sang Menaka. Gelar-gelar mereka adalah nama-nama bidadari dari 7 bidadari utama dalam pewayangan.

Tiga raja bergelar bidadari itu konon turunan dari Dinasti Chola. Chola adalah kerajaan yang menguasai jagat Asia Selatan (Mandala Tamil), Gangga dan Asia Tenggara. Chola meluluhlantakkan Kadaram, Malayu Tua dan Pannai. Juga Lamuri dan sejumlah kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatera, Semenanjung Melaka, Kalimantan, Filipina dan Delta Mekong.

Siapa Perpatih penjemput Sang Sapurba

Patih Sebatang menjemput Sang Sapurba yang turun di Siguntang Palembang. Patih Sebatang adalah pemimpin suku Caniago, kemudian menjadi pemimpin Laras Bodi Caniago. Selanjutnya perannya dalam Kerajaan Pagaruyung menjadi lebih menonjol daripada rekannya Datuk Ketumanggaungan dari Laras Koto Piliang.

Suku Caniago adalah nama dari klan yang terdaftar sebagai anggota persyarikatan Dagang Saribu yang menerbitkan prasasti di Lobu Tua, Tapanuli Tengah dan Neusu, Baiturrahman Aceh. Sarikat Dagang ini aslinya bernama Ayyavole dengan julukan Yang Kelimaratus dari Seribu Arah dengan tempat pertemuan Barus alias Batanghari. Mereka adalah pemegang monopoli, penguasa pelabuhan. Karena kekayaannya, mereka diakui setaraf dengan bangsawan dengan gelar Rangkayo atau Orang Kaya. Mereka menarik cukai berupa emas berdasarkan harga kasturi pada setiap kapal.

Mitos Dampak Bangkai Naga Sakti Muna

Pembuangan bangkai Naga Sakti Muna menimbulkan tentang karakter orang-orang Kampar, Kuantan dan Batang Hari. Kampar tempat pembuangan kepalanya menjadi orang keras kepala. Kuantan tempat pembuangan perutnya menjadi orang kuat makan. Batang Hari tempat pembuangan ekornya menjadi orang suka melilit/membelit.

Suku Ompu, Kampung Tengah dan Suku Koto

Ketika Cola menguasai Asia Tenggara, Cola menempatkan gubernurnya di Lamuri yang sekarang menjadi Banda Aceh. Keperkasaan kerajaan Cola didukung kasta-kasta ksatria berjuluk mudaliar di antaranya Agamudaliar yang kelak menjadi orang berpengaruh di kerajaan Singapura. Kasta Mudaliar bukan hanya panglima, tetapi menjadi patih/menteri Kerajaan Cola. Terbentuklah kemudian Sarikat Dagang Ayyavole yang menguasai perdagangan di wilayah kekuasaan Cola, mulai Tanjavore hingga Asia Tenggara. Para pemimpin lokal menjadi setaraf bangsawan bergelar Orang Kaya atau Demang, di antaranya Patih Sebatang di Barus/Batanghari, Lebar Daun Palembang, Ampu Jatmika Tanjungpura dan Kebayunan Bengkulu. Tewasnya bangsawan Jawi (Savakan / Javaka) sewaktu pasukan Candrabanu dari Tambralingga dikalahkan Sadayavarman Sundara Pandyan I penguasa Pandi Mandala yang perkasa.

Suku KOTO, merupakan keturunan dari campuran migran yang pertama tiba di Barus Batanghari dengan penduduk lokal Sumatera. Suku Koto pertama berasal dari KOTTAR , pelabuhan dagang terpenting di Asia Selatan yang terletak di ujung tanjung Asia Kecil, di muara Sungai Bakruli. Kata kottar diperkirakan berasal dari kata KOTTAM+AARU yang berarti benteng sungai. Kotar adalah bazaar area. Berdasarkan tradisi kotanya inilah, maka keturunan Koto membuat negeri dengan KOTO dan pasar sebagai pusat negeri. Sebagai metropolis Kottar yang dikenal sebagai Kottora Metropolis oleh penulis Yunani Ptolemy, diisi oleh multi kaste, saat ini Vellalars, Kuravars (Gunung Kurinji), Paravars, Chavalakara Padayatchis dan Chettis. Kottar berulang-ulang dikuasai Pandya dan Chera. Kottar saat ini masuk dalam kota Nagercoil, Negara Bagian Tamil Nadu India. Nagercoil berarti CANDI NAGA. Kasta ksatria di tempat ini adalah kasta-kasta yang disebut Nayar, kasta yang menyatakan dirinya keturunan Naga, dan menganut sistem matrilineal yang disebut marumakkathyam, tinggal di rumah gadang yang disebut tharavad, wanita mereka mengenakan nagapattam (kepala naga).

Makna Naga Sakti Muna

Naga Sakti Muna berkemungkinan berarti kasta ksatria (SUKU KOTO) yang menguasai tanah Pagaruyung pada awalnya. Sang Sapurba berhasil menaklukkannya dan mencerai beraikannya menjadi tiga bagian, Pasukan utama barisan pengawal panglima terusir ke utara (Kampar/Rao/Rokan), pasukan tengah barisan logistik terusir ke timur (Kuantan) dan barisan depan terusir ke selatan (Batang Hari). Kekalahan tersebut diibaratkan, para panglima (Ompu) terlalu bersitegang dengan strategi, barisan tengah (kampung tengah) terlalu sibuk dengan makanan dan barisan depan kucar kacir menyelamatkan diri sendiri dan bahkan mungkin menikung teman sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *